Camat Giritontro, Kuswandi, mengatakan jika sepuluh hari lagi tidak turun hujan, maka pihaknya akan mengusulkan bantuan ke pemerintah daerah. “Saat ini, dalam sehari ada satu hingga dua mobil tangki yang hilir mudik. Jika sepuluh hari lagi tidak hujan, maka air di penampungan warga mulai banyak yang habis,” katanya, Kamis (14/6/2012).
Harga air bersih per tangki dengan kapasitas 5.000 liter dipatok dengan harga paling tinggi Rp120.000 sesuai jauh dekatnya lokasi.
Di wilayah Kecamatan Paranggupito, walaupun aliran air dari sumber Waru milik PDAM sudah menyala, baru sekitar 25% yang bisa teraliri PDAM. Dari delapan desa, ada tujuh desa yang teraliri PDAM walaupun dengan jumlah yang sedikit. “Pembelian air itu dibuat dengan model kelompok dan ada bak penampung milik PDAM di tingkat RT yang dijaga petugas. Warga yang tinggal di wilayah atas, turun dan membeli air ke sana. Satu pikul ada yang dijual Rp500. Tarifnya sesuai kesepakatan kelompok dengan PDAM,” ujar Camat Paranggupito, Purwoto.
Sementara, seorang anggota DPRD Wonogiri asal Kecamatan Pracimantoro, Haryoto, mengatakan di wilayahnya juga sudah ada warga yang mulai membeli air bersih. Ia berharap pihak Balai Besar Wilayah Sungai Bengawan Solo (BBWSBS) menghidupkan pompa air di Seropan. Sebab, air dari sumber tersebut mampu memenuhi kebutuhan air bersih di sembilan desa.
Di sisi lain, Pemkab telah menerima dua unit mobil tangki baru beberapa waktu lalu. Kepala Dinas Pengairan Energi dan Sumberdaya Mineral (PESDM) Wonogiri, Arso Utoro, mengatakan mobil tangki itu merupakan bantuan dari presiden melalui Kementerian ESDM. “Masing-masing tangki berkapasitas 6.000 liter. Bantuan itu untuk antisipasi datangnya musim kemarau,”
Solopos
0 komentar:
Posting Komentar